Pages

Jumat, 18 Oktober 2013

Nasihat Lukmanul Hakim

Nasihat Lukmanul Hakim Kepada Anaknya

Satu-satunya manusia yang bukan nabi, bukan pula Rasul tapi kisah hidupnya diabadikan dalam Qur'an adalah Lukman Al Hakim. Kenapa, tak lain, karena hidupnya penuh hikmah. Suatu hari ia pernah menasehati anaknya tentang hidup."Anakku, jika makanan telah memenuhi perutmu, maka akan matilah pikiran dan kebijaksanaanmu. Semua anggota badanmu akan malas untuk melakukan badah, dan hilang pulalah ketulusan dan kebersihan hati. Padahal hanya dengan hati bersih manusia bisa menikmati lezatnya berdzikir.""Anakku, kalau sejak kecil engkau rajin belajar dan menuntut ilmu. Dewasa kelak engkau akan memetik buahnya dan menikmatinya.""Anakku, ikutlah engkau pada orang-orang yang sedang menggotong jenazah, jangan kau ikut orang-orang yang hendak pergi ke pesta pernikahan. Karena jenazah akan mengingatkan engkau pada kehidupan yang akan datang. Sedangkan pesta pernikahan akan membangkitkan nafsu duniamu.""Anakku, aku sudah pernah memikul batu-batu besar, aku juga sudah mengangkat besi-besi berat. Tapi tidak pernah kurasakan sesuatu yang lebih berat daripada tangan yang buruk perangainya.""Anakku, aku sudah merasakan semua benda yang pahit. Tapi tidak pernah kurasakan yang lebih pahit dari kemiskinan dan kehinaan.""Anakku, aku sudah mengalami penderitaan dan bermacam kesusahan. Tetapi aku belum pernah merasakan penderitaan yang lebih susah daripada menanggung hutang.""Anakku, sepanjang hidupku aku berpegang pada delapan wasiat para nabi. Kalimat itu adalah:1. Jika kau beribadah pada Allah, jagalah pikiranmu baik-baik.2. Jika kau berada di rumah orang lain, maka jagalah pandanganmu.3. Jika kau berada di tengah-tengah majelis, jagalah lidahmu.4. Jika kau hadir dalam jamuan makan, jagalah perangaimu.5. Ingatlah Allah selalu.6. Ingatlah maut yang akan menjemputmu7. Lupakan budi baik yang kau kerjakan pada orang lain.8. Lupakan semua kesalahan orang lain terhadapmu. 

Sabtu, 12 Oktober 2013

Kajian Bulan Muharram

Kenapa dan bagaimana kita memuliakan bulan Muharram?

Muhib Al-Majdi - Jum'at, 9 Muharram 1434 H / 23 November 2012 10:38(Arrahmah.com) – Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam kalender hijriyah. Bulan Muharram memiliki keagungan yang sangat tinggi dalam Al-Qur’an dan as-sunnah. Allah Ta’ala menjadikan bulan Muharram sebagai salah satu dari empat bulan haram dalam setahun.Muharram adalah bulan haramDi dalam Al-Qur’an Allah Ta’ala berfirman:إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ“Sesungguhnya jumlah bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan (telah ditetapkan) di dalam kitab Allah sejak hari Allah menciptakan langit dan bumi. Di antara dua belas bulan tersebut terdapat empat bulan yang haram. Itulah dien yang lurus. Maka janganlah kalian menzalimi diri kalian sendiri pada bulan-bulan (haram) tersebut.” (QS. At-Taubah [9]: 36)Dalam hadits shahih dijelaskan:عَنْ أَبِي بَكْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: ” إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلَاثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو الْقَعْدَةِ، وَذُو الْحِجَّةِ، وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبٌ شَهْرُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ “Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Sesungguhnya tahun telah kembali seperti kondisinya semula seperti pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan, di antaranya terdapat empat bulan haram. Tiga bulan haram yang berturut-turut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijah dan Muharram. Satu bulan haram lainnya adalah Rajab, bulan bangsa Mudhar yaitu yang terletak di antara Jumadil Akhir dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 4406 dan Muslim no. 1679)Mayoritas ulama tafsir menyatakan makna dari firman Allah “Maka janganlah kalian menzalimi diri kalian sendiri pada bulan-bulan  tersebut” adalah janganlah kalian menzalimi diri kalian sendiri pada empat bulan haram tersebut. Maksud dari menzalimi sendiri di sini adalah melakukan kemaksiatan dan kemungkaran.Bukan berarti di selain empat bulan haram tersebut seorang muslim boleh melakukan kemungkaran dan kemaksiatan. Tidak demikian maknanya. Namun maksudnya adalah haram melakukan kemungkaran dan kemaksiatan dalam bulan apapun. Hanya saja kemungkaran dan kemaksiatan yang dilakukan pada bulan-bulan haram akan lebih besarnya dosanya di sisi dan lebih pedih siksaannya di sisi Allah Ta’ala.Hal itu seperti halnya keharaman mengucapkan kata-kata kotor dan melakukan kemaksiatan pada bulan apapun. Namun keharaman tersebut akan semakin kuat pada bulan haram, Dzulhijah, saat seorang muslim berada di tanah haram, Makkah, dalam rangka menunaikan ibadah haji. Seperti difirmankan oleh Allah Ta’ala:الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ“Haji itu dikerjakan pada bulan-bulan yang telah diketahui (yaitu bulan haram Dzulhijah). Maka barangsiapa melaksanakan haji pada bulan tersebut, janganlah ia melakukan hal yang keji, janganlah melakukan kefasikan dan jangan pula berdebat kusir selama melaksanakan haji.” (QS. Al-Baqarah [2]: 197)Muharram adalah “bulan Allah”Allah Ta’ala juga memuliakan bulan Muharram dengan menyebutnya sebagai “bulan Allah”.عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَفْضَلُ الصِّيَامِ، بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ، بَعْدَ الْفَرِيضَةِ، صَلَاةُ اللَّيْلِ»Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Seutama-utama puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa bulan Allah, Muharram. Dan seutama-utama shalat setelah shalat wajib lima waktu adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163, Abu Daud no. 2429, Tirmidzi no. 438, An-Nasai no. 1613, Ahmad no. 8534, dan Ad-Darimi no. 1758)Semua bulan dalam setahun yang berjumlah dua belas bulan adalah bulan Allah. Allah Ta’ala yang menciptakan dan mengaturnya. Namun demikian secara khusus Allah Ta’ala menyatakan bulan Muharram sebagai milik-Nya dan bulan-Nya. Hal ini merupakan sebuah bentuk pemuliaan dan pengagungan Allah terhadap bulan ini. Sama halnya Allah memuliakan Ka’bah dengan menyebutnya sebagai rumah Allah (Baitullah), meskipun semua masjid di muka bumi pada hakekatnya adalah milik Allah dan rumah-Nya.Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali dalam kitabnya, Lathaiful Ma’arif, menulis: “Para ulama telah berbeda pendapat tentang bulan apakah yang paling mulia? Imam Hasan Al-Bashri dan lainnya mengatakan bulan yang paling utama adalah bulan Allah, Muharram. Pendapat ini dikuatkan oleh sekelompok ulama generasi belakangan.Wahab bin Jarir meriwayatkan dari Qurrah bin Khalid dari Hasan Al-Bashri berkata: “Sesungguhnya Allah Ta’ala memulai tahun dengan bulan haram (Muharram) dan mengakhiri tahun tersebut juga dengan bulan haram (Dzulhijah). Maka di dalam setahun, setelah bulan Ramadhan tidak ada bulan yang lebih agung di sisi Alllah dari bulan Muharram. Sampai-sampai pada zaman dahulu dinamakan bulan Muharram yang tuli karena besarnya keharaman (berbuat maksiat pada bulan tersebut).”Imam An-Nasai meriwayatkan dari Abu Dzar Al-Ghiffari radhiyallahu ‘anhu berkata: “Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam: “Wahai Rasulullah, (memerdekakan) budak yang lebih menyucikan (jiwa)? Bagian malam apakah yang paling baik? Dan bulan apakah yang paling utama?”Maka beliau bersabda:  «أَزْكَى الرِّقَابِ أَغْلَاهَا ثَمَنًا، وَخَيْرُ اللَّيْلِ جَوْفُهُ، وَأَفْضَلُ الْأَشْهُرِ شَهْرُ اللهِ الَّذِي تَدْعُونَهُ الْمُحَرَّمَ»“(Memerdekakan) budak yang lebih menyucikan (jiwa) adalah (memerdekakan) budak yang paling mahal harganya. Bagian malam yang paling baik adalah pertengahan malam. Dan bulan yang paling utama adalah bulan Allah yang kalian namakan bulan Muharram.” (HR. An-Nasai dalam as-sunan al-kubra no. 4202)Muharram: Bulan Allah dan amalan AllahSemua amal shalih sangat dianjurkan untuk ditingkatkan di bulan Muharram, baik dari sisi kwantitas maupun kwalitas. Salah satunya adalah puasa sunnah. Dianjuran untuk memperbanyak puasa pada bulan Muharram ini. Puasa bulan Muharram memiliki keistimewaan sendiri, sebab puasa adalah amal kebaikan milik Allah, dan bulan Muharram adalah bulan milik Allah.Puasa adalah amal kebaikan yang telah diakui Allah sebagai “milik-Nya” dan Allah sendiri yang akan memberikan balasan pahalanya. Sebagaimana dijjelaskan dalam hadits shahih:عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: الصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Allah Azza wa Jalla berfirman: “Puasa itu khusus milik-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”(HR. Bukhari no. 7492 dan Muslim no. 1151)Saat amalan istimewa milik Allah dikerjakan pada bulan istimewa milik Allah, tidak heran apabila puasa sunnah di bulan Muharram merupakan puasa sunnah yang paling utama. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih:  عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَفْضَلُ الصِّيَامِ، بَعْدَ رَمَضَانَ، شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّمُ»Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Seutama-utama puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa bulan Allah, Muharram.” (HR. Muslim no. 1163, Abu Daud no. 2429, Tirmidzi no. 438, An-Nasai no. 1613, Ahmad no. 8534, dan Ad-Darimi no. 1758)Mari kita muliakan bulan Muharram ini dengan meningkatkan kwalitas dan kwantitas amal-amal kebajikan kita. Semoga Allah memberikan bonus istimewa untuk itu, sebagaimana yang telah dijanjikan oleh-Nya sendiri. Wallahu a’lam bish-shawab.(muhib almajdi/arrahmah.com)

Dzulhijjah dan Puasa Sunnat

Puasa sunnah dalam Islam dapat dikategorikan menjadi empat, pertama puasa sunnah tahunan seperti puasa enam hari dibulan Syawal, puasa di hari Arafah dan puasa ‘asyura’ (Hari kesepuluh) dibulan Muharram. Kedua, puasa sunnah bulanan seperti puasa Ayyamil Bhidh (Puasa tiga hari setiap bulannya, yaitu tanggal 13, 14 dan 15). Ketiga puasa sunnah mingguan seperti puasa hari Senin dan Kamis. Keempat, puasa sunnah harian seperti puasa Daud, yaitu sehari puasa dan sehari tidak.Sebagaimana layaknya puasa, puasa sunnah juga harus memenuhi syarat-syarat puasa, sebagaimana puasa wajib di bulan Ramadhan. Menahan diri dari makan dan minum dan nafsu dimulai sejak terbitnya fajar sampai dengan terbenamnya matahari. Dalam bulan Dzulhijjah ada puasa sunnah yang sangat dianjurkan oleh syara’ karena banyak hadits yang menyebutkan keutamaannya, yaitu puasa Arafah. Puasa yang dilaksanakan pada hari ke-9 bulan Dzulhijjah bagi kaum muslimin yang tidak melaksanakan ibadah haji, karena sebagian ulama’ berpendapat bahwa puasa arafah hukumnya makruh bagi orang yang sedang melaksanakan ibadah haji, dengan alasan bahwa dalam keadaan kondisi lemah seseorang bisa malas berdo’a, padahal dihari tersebut adalah waktu yang mustajab bagi yang memohon kepada Allah, maka janganlah disia-siakan bagi jama’ah yang melaksanakan ibadah haji. Dalam Kitab Al-Muhaddzb Imam As-syairazi terdapat keterangan mengenai hal ini, ولأن الدعاء في هذا اليوم يعظم ثوابه والصوم يضعفه فكان الإفطار أفضل ويستحبKarena berdoa dihari arafah adalah waktu yang mustajabah, sedangkan puasa bisa membuat kondisi fisik lemah dan lemas, maka lebih utama bagi jama’ah haji di Arafah tidak berpuasa. Sedangkan untuk keutamaan puasa di hari arafah bagi kaum muslimin yang tidak melaksanakan ibadah haji sangat besar, selain pahala ittiba’us sunnah (Mengikuti sunah Rasulullah) ada keutamaan lain yang begitu istimewa, yaitu bisa melebur dosa-dosa yang telah lalu selama setahun penuh, dan setahun yang akan datang, sebagaimana keterangan hadits riwayat Abi Qatadah berikut ini, صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ كَفَّارَةُ السَّنَةِ وَالسَّنَةِ التِّي تليهاPuasa dihari Arafah bisa melebur dosa-dosa yang telah lalu selama setahun penuh dan setahun yang akan datangImam Al-Mawardi dalam kitabnya Al-Hawi Al-Kabir memberi penjelasan tentang yang dimaksud dengan terleburnya dosa-dosa tahun lalu dan tahun yang akan datang, karena hal ini ada dua kemungkinan, pertama seseorang yang menjalankan puasa hari arafah akan mendapatkan keutamaan terlebur dosanya yang lalu selama setahun penuh dan dosa setahun yang akan datang. Kedua adalah, Allah menjaga orang tersebut dari perbuatan buruk pada kedua tahun tersebut. أَحَدُهُمَا: إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَغْفِرُ لَهُ ذُنُوبَ سَنَتَيْنِ. وَالثَّانِي: إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَعْصِمُهُ فِي هَاتَيْنِ السَّنَتَيْنِ فَلَا يَعْصِي فِيهِمَاPertama, Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang lalu selama setahun dan pada tahun berikutnya. Kedua, Allah akan menjaganya dari perbuatan buruk pada kedua tahun tersebut.

Lumanul Hakim dan Keledai

Lukman Hakim memerintahkan anaknya mengambil seekor keledai. Sang anak memenuhinya dan membawanya ke hariban sang ayah. Lukman menaiki keledai itu dan memerintahkan anaknya untuk menuntun keledai.Keduanya berjalan melewati kerumunan orang banyak. Tiba-tiba orang-orang mengecam seraya berkata, "Anak kecil itu berjalan kaki, sedangkan orang-tuanya nangkring di atas keledai, alangkah kejam dan kasarnya ia." Lukman bertanya kepada anaknya, "Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?" Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.Kemudian, Lukman turun menuntun keledai. Sang anak ganti menaiki keledai. Keduanya lalu berjalan melewati keramaian di tempat lain. Tiba-tiba mereka mencemooh sang anak seraya berkata, "Anak muda itu menaiki keledai, sedangkan orang tuanya berjalan kaki, alangkah jelek dan kurang ajar sang anak." Lukman bertanya kepada anaknya, "Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?"Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.Kemudian, Lukman dan anaknya sama-sama menaiki keledai berboncengan. Keduanya melewati keramaian di tempat lain, tiba-tiba orang-orang mencerca keduanya seraya berkata, "Betapa kejam kedua orang itu, mereka menaiki seekor keledai, padahal mereka tidak sakit, dan tidak pula lemah." Lukman bertanya kepada anaknya, "Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?"Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.Akhirnya, Lukman dan anaknya turun dari keledai. Keduanya berjalan kaki sambil menuntunnya melewati keramaian di tempat lain. Tiba-tiba orang-orang mengecam seraca berkata, "Subhanallah... seekor himar yang sehat dan kuat berjalan? sementara kedua orang itu berjalan menuntunnya, alangkah baiknya jika salah satu dari mereka menaikinya." Lukman bertanya kepada anaknya, "Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?"Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.Kemudian, Lukman menasihati anaknya: "Wahai anakku, bukankah aku telah berkata kepadamu, kerjakanlah pekerjaan yang membuat engkau menjadi saleh dan janganlah menghiraukan orang lain. Dengan peristiwa ini saya hanya ingin memberi pelajaran kepadamu."Sumber: Diadaptasi dari, Luqmanul Hakim wa-Hikaamuhu, Ali bin Hasan al-Athas

Sejarah Singkat Lukmanul Hakim

Khazanah intelektual sufi Melayu sangat kaya. Pemikiran dan gagasan guru-guru tasawuf itu tidak sedikit di antaranya ditulis dalam bentuk karya sastra, seperti syair, alegori, kisah-kisah mengandung nasehat dan bahkan cerita berbingkai. Salah satu sastra berbentuk nasehat yang terkenal ialah yang disebut secara umum sebagai Naseh Lukmanul Hakim. Naskah aslinya teks ini ditulis dalam huruf Arab Melayu atau Jawi, yaitu huruf Arab Parsi yang disesuaikan dengan abad Melayu. Berikut ini petikan dari bagian yang relevan dari teks yang berasal dari Aceh Darussalam abad ke-17 M.***Sebermula adalah kata setengah pandita, bahwa Lukmanul Hakim itu nabi dan kata setengah lagi: ia waliullah; mana yang benar wallahu’alam.Adapun mukjizat Lukmanul Hakim itu, segala yang ada di atas dunia ini dapat berkata-kata dengan dia dan semuanya menyatakan perkataannya, dan manfaatnya dan mudlaratnya dan khasiatnya masing-masing kepada Lukmanul Hakim. Oleh karena itu kata setengah pandita, Lukmanul Hakim itu keramat juga, maka dapat ia berkata-kata dengan segala barang yang ada di dunia ini.Firman Allah subhanahu wata’ala: “Qala’llahu ta’ala wa laqad ataina Lukmanulhikmata,” Artinya: Allah subhanahu wata’ala, bahwasanya Aku turunkan kepada Lukman daripada segala hikmatku dan aku anugerahkan ia kepadanya.Bahwasanya adalah tersebut dalam kitab Hikmatu’lhukma: apabila Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ilmu hikmat kepada Lukmanul Hakim, maka terbukalah matanya dan telinganya dan hatinya dan barang yang ada dalam dunia ini telah nyatalah padanya. Maka segala yang dijadikan Allah subhanahu wa ta’ala masing-masing kepada Lukmanul Hakim, menyatakan sifat yang ada padanya. Ada yang berkata: “Akulah racun.” Ada yang berkata: “Aku penyakit.” Ada yang berkata: “Akulah penawar.” Yang lain berkata: “Akulah yang banyak khasiatnya.” Pendeknya berbagai-bagailah pengakuan segala benda yang ada di dunia ini. Semuanya itu dijadikan suatu kitab yang besar oleh Lukmanul Hakim. Oleh sebab itu dapatlah diketahui orang sekarang segala hal yang terjadi pada zaman Lukmanul Hakim.Lain draipada kitab yang tersebut itu, adalah pula kitab karangan Lukmanul Hakim yang besar, Kitab Naseh Lukman namanya. Isinya segala pengajaran, ketika ia mengajar anaknya. Terlalu indah-indah perkataannya dan elok-elok nasihatnya.Sekali peristiwa Lukmanul Hakim hadir di dalam suatu majlis. Maka bertanyalah seorang kepadanya, katanya: “Hai Lukman, aku mendengar kabar, bahwa kamu dahulu suatu pun tiada tahu mengenai ilmu hikmat. Pada masa itu gembala lembu dan kambing jua adamu. Benarkah kabar itu?”Maka ujar orang itu pula: “Benarlah kabar itu, akulah Lukman yang gembala lembu dan kambing orang dan mengambil upah.”Maka ujar orang itu pula: “Hai Lukman, bahwasanya sekarang ilmu dan hikmat seorang pun tiada seperti kamu. Betapakah segala ilmu dan hikmat itu kamu peroleh? Katakanlah kepadaku, supaya insyaf aku, mudah-mudahan, akan diriku.”Sahut Lukmanul Hakim: “Bahwasanya ilmu dan hikmat itu daripada tiga perkara aku peroleh; pertama daripada kebenaran dan kelakuan dan perkataan dan perbuatan. Kedua daripada diam kira-kira yang benar adanya. Ketiga daripada menjauhkan diri daripada orang yang jahat. Maka ketiga perkara itulah pohon segala pengetahuan padaku.”Seorang pula bertanya kepada Lukmanul Hakim: “Hai Lukman, segala adab itu nyata padamu, siapakah yang mengajarkan adab itu kepadamu?”Sahut Lukmanul Hakim: “Bahwasanya belajar adab itu pada orang yang tiada beradab.”Maka ujar orang itu pula: “Hai Lukman, betapakah orang yang tiada beradab itu dapat mengajarkan adab kepada orang? Terangkanlah kepadaku betapa kebenaran kata itu.”Jawab Lukmanul Hakim: “Ketika aku duduk dalam suatu majlis, banyak kedengaran orang berkata-kata. Maka adalah seorang berkata-kata dengan tiada beradab. Maka dituturkanlah orang perbuatan dan perkataan orang itu. Oleh karena dia dicela dan dibenci, maka nyatalah kepadaku perkataan dan perbuatan orang itu tiada benar dan tiada baik, serta tiada diperkenankan Allah dan rasul-Nya. Dan sesama manusia pun tiada pula berkenan akan dia dan aku pun bencilah akan dia. Maka bertambah-tambahlah ada padaku insyaf dan pikir. Inilah peri aku belajar adab pada orang yang tiada beradab.Al-Hikmah Lukman al-Hakim1.     Empat perkara yang harus dikehendaki dan lawannya harus dielakkan.Pertama, bersahabat dengan berkasih-kasihan; kedua, dengan amal; ketiga, pengetahuan mengobati segala penyakit dengan dicobanya; keempat, kebesaran dunia akhirat dengan adab dan sopan pada sesama manusia, pada Allah subhanahu wa ta’ala pun juga.2.     Empat perkara yang menghilangkan empat perkara. Pertama, tiada mengucapsyukur, menghilangkan nikmat; kedua, malas mengerjakan sembahyang lima waktu, menghilangkan dunia dan akhirat; ketiga, aniaya menghilangkan kerajaan, kekuatan dan keadaan…; keempat, dengki dan membesar-besarkan diri, menghilangkan kehebatan dan kasih sayang dalam hati manusia.3.     Empat perkara yang mengenalkan.Pertama, kerajaan itu dengan adil; kedua,hendaklah perbuatan itu dengan niat yang ikhlas; ketiga, beroleh nikmat dengan mengucap syukur akan Allah; keempat, iman dengan tasydik kita akan Allah.4.     Empat perkara orang yang berseteru dengan Allah ta’ala Pertama, Sultan yanganiaya atas sekalian rakyatnya; kedua, orang yang biasa menyumpah; ketiga, orang fakir yang membesarkan dirinya; keempat, orang yang biasa berbuat zina, tiada dapat dibuangnya fi’ilnya itu. Bahwasanya fi’il itu perbuatan setan adanya.5.     Empat perkara yang menyampaikan. Pertama, adalah pertanyaan itumenyampaikan kepada takut; kedua, membedakan itu menyampaikan kepada kekayaan; ketiga, sabar itu menyampaikan kepada yang dikasihi; keempat, harap itu menyampaikan kepada yang dituntutnya.6.     Empat perkara alamat orang yang murah. Pertama, ia memberi pada barangsiapa jua, tiada berkehendak akan puji atas dirinya. Kedua, pemberian itu tiada dipinta lagi. Ketiga, menyampaikan janji dengan tiada bersalah. Keempat, menolong ia dengan karena Allah semata-mata.7.     Empat perkara yang memberi melarat akan raja-raja. Pertama, apabila raja ituaniaya atas sekalian rakyatnya. Kedua, melupakan daripada menterinya. Ketiga, khianat daripada orang yang disuruh. Keempat, kuasa atas sekalian tawanan, bagi orang yang boleh menguasai daripada peperangan.8.     Empat perkara alamat orang yang bijaksana. Pertama, barang katanya dengansyariat (sejati). Kedua, barang kelakuannya dengan adab. Ketiga, barang kerjanya dengan sebenarnya. Keempat, barang yang diartikan itu hampir misal ibaratnya.9.     Empat perkara alamat orang yang ahmak (bebal), Pertama, barang katanya itudengan angkuh, yakni tinggi. Kedua, barang kelakuannya itu tiada berkehendak, adab lagi. Ketiga, barang kerjanya tiada dengan pikir. Keempat, barang wa’adnya (janji) itu banyak bersalahan.10. Empat perkara yang menyampaikan empat perkara. Pertama, bantahanmenyampaikan kepada kemaluan. Kedua, membesarkan diri itu menyampaikan kepada berseteru. Ketiga, merugi itu menyampaikan kepada sesalan. Keempat, berlebihan itu menyampaikan kepada papa dan celaka.11. Empat perkara yang telah lalu itu tak dapat sekali-kali dikembalikan lagi.Pertama, barang yang telah tersurat akan sesuatu, yang dinamai kadha. Kedua, anak panah yang telah lepas dari busurnya. Ketiga, kata yang telah dikatakan. Keempat, umur yang telah zamani (lampau).12. Adapun api empat perkara, Pertama, api berani. Kedua, api kayu. Ketiga, apikilat. Keempat, api lapar, yakni orang yang amarah pada lapar, oleh sebab itu dinamai akan dia lapar api.13. Empat perkara warna mabuk. Pertama, mabuk berahi. Kedua, mabuk ….Ketiga, mabuk minuman. Keempat, mabuk oleh kekayaan, sebab takabur dan gururnya.14. Empat perkara yang menjadikan kehinaan, serta menjadi seterus. Pertama,seterus sebab dengki hatinya. Kedua, sebab gemar berbantah dan berseteru bantahannya. Ketiga, tamak nafsunya, hingga menjadi seteru. Keempat, gusar, sebab bersenda gurau di hadapan perhimpunan orang banyak, sehingga menjadi berkelahi adanya.15. Empat perkara yang menjadikan sesat segala manusia. Pertama, diturutnyapengajar orang yang ahmak (bebal). Kedua, orang yang kurang bicara budi. Ketiga, bersahabat dengan orang yang jahat. Keempat, berkasih-kasihan dengan orang yang tiada menaruh kulit iman.16. Empat perkara yang memberi melarat pada segala manusia.Pertama,penggusar. Kedua, bersenda-senda gurau (secara berlebihan). Ketiga, pemalas. Keempat, bersegera yang tiada dengan kira-kira lagi.17. Empat perkara yang tiada boleh dilawan. Pertama, api atau air atau angin.Kedua, penyakit. Ketiga, hutang. Keempat, maut.18. Empat perkara daripada gelap. Pertama, gelap mata. Kedua, gelap hati.Ketiga, gelap iman. Keempat, gelap akal. Adapun gelap mata itu, menyesatkan perjalanan, dan gelap hati menyesatkan ingatan dan pikir, dan gelap iman itu akan menyesatkan makrifat kepada Allah subhana wa ta’ala dan gelap akal itu akan menyesatkan daripada perkara yang ketiga itu adanya.19. Empat perkara yang mengurangkan empat perkara, tetapi menambah empatperkara yang lain. Pertama, makan banyak, mengurangkan usaha, menambahi malas. Kedua, sangat banyak tidur, mengurangkan akal, menambahi alpa. Ketiga, sangat banyak jimak, mengurangkan kaut, menambahi sakit. Keempat, banyak sukacita, mengurangkan ibadat, menambahi dosa dan menghampirkan dukacita.20. Empat perkara yang menambahi sehat dan istirahat pada segala manusia.Pertama, mengucapkan syukur atas nikmat Tuhan seru sekalian alam dan mengharap barang yang dianugerahkan Allah subhanahu wa ta’ala. Kedua, mendengarkan orang yang benar. Ketiga, jangan dikira-kirakan barang yang tiada kekal adanya. Keempat, mencari tempat yang sunyi dan duduk di dalam kebajikan.21. Empat perkara yang menambahi empat perkara. Pertama, tubuh sehatmenambahi kesenangan hati. Kedua, badan kuat menambahi makan yang baik khasiatnya. Ketiga, lemah itu, sebab banyak memperoleh dukacita. Keempat, terjadinya penyakit dalam tubuh itu, karena bertemu dua yang berlawanan; seperti panas dengan panas yang kurang atau bertambah daripada hadnya (batasnya).22. Empat perkara yang baik kepada manusia. Pertama, kata. Kedua, harta.Ketiga, jimak. Keempat< makan dan tidur.23. Empat perkara yang terpuji bagi segala manusia. Pertama, fi’il yang baik.Kedua, kata-kata dengan adab. Ketiga, tawaduk, yakni merendahkan diri. Keempat, murah hatinya.24. Empat perkara dihinakan oleh manusia. Pertama, kurang bicara. Kedua,banyak seterus. Ketiga, menghinakan hikmat. Keempat, menurut pandai kira-kira orang yang ahmak (bebal). Maka jadilah binasa pekerjaan manusia itu.25. Empat perkara yang sangat jahat. Pertama, kabir akan orang yang berpunya.Kedua, orang tiada peduli akan segala handai tolannya. Ketiga, perkataannya dusta daripada segala hukumannya. Keempat, orang yang kurang malunya, dan jika perempuan peri yang demikian itu, terlebih lagi keji adanya.26. Empat perkara yang ada segala pekerjaan tergantung padanya. Pertama,berniaga. Kedua, bercocok tanam. Ketiga, amarah. Keempat, pengetahuan.27. Empat perkara yang menambahi kuat pada tubuh manusia. Pertama, makandaging. Kedua, memakai pakaian yang halus. Ketiga, memakai bau-bauan yang harum-harum. Keempat, mandi dalam tiga kali sehari.28. Empat perkara yang menda’ifkan tubuh manusia. Pertama, jimak banyak.Kedua, percintaan atau kesal banyak dalam hatinya. Ketiga, dibiasakan minum air terdahulu daripada makan nasi atau roti atau barang sebagainya. Keempat, memakan asam banyak.29. Empat perkara yang mengurangkan cahaya mata. Pertama, memandikanmayat. Kedua, memandang paras perempuan. Ketiga, memandang pihak sebelah maghrib dan kiblat. Keempat, terlalu sangat memandang ke masyrik (timur) pada ketika ke sungai, kadha hajat seni atau besar pada ketika jimak atau pada ketika mandi tidak berkain basahan.30. Empat perkara yang menambahi cahaya mata. Pertama, duduk pada barangtempat menghadap kiblat. Kedua, hendaklah pada tiap-tiap malam berjaga. Ketiga, memandang pada air yang mengalir. Keempat, memandang pada tumbuh-tumbuhan kayu yang hijau daunnya.Perkataan Lukmanul HakimEmpat perkara isi neraka: Pertama, segala raja-raja yang mengambil hak rakyatnya tiada dengan sebenarnya dan menghukumkan dengan segala gagahnya atas segala rakyatnya. Kedua, raja yang alpakan negerinya dan rakyatnya dan tiada memeliharakan rakyatnya. Ketiga, orang yang berbuat fitnah sana sini pada sesama manusia. Keempat, orang yang tiada ingat akan dirinya dan alpakan mautnya, yakni melupakan matinya dan tobatnya.(lihat Abdul Hadi WM, Sastra Sufi SebuahAntologi. Jakarta: Pustaka Firdaus 1985)